Zaman
telah berlalu, tapi cerita ini terus hidup dalam ingatan penduduk pulau
Marasende. Kisah ini, seperti deburan ombak yang tak pernah surut, adalah
legenda di tengah laut, sebuah kisah epik yang telah meresap dalam jiwa pulau
kecil itu. Ini adalah kisah tentang pertarungan sengit antara dua pendekar
ulung, Mada dari Pulau Bawean dan I Waco dari Tanah Mandar, melawan Lipan
Raksasa yang menakutkan.
Pulau
Marasende adalah tempat yang damai dan indah. Tetapi suatu ketika, kedamaian
itu terguncang oleh teror yang menyeramkan. Suara-suara aneh dan teror yang
tidak bisa dijelaskan mulai menghantui malam-malam mereka. Penduduk pulau hidup
dalam ketakutan, terjebak dalam kegelapan yang tiba-tiba merayap ke dalam hidup
mereka. Mereka tahu bahwa sesuatu yang mengerikan telah mendarat di pulau
mereka, dan mereka tidak bisa lagi hidup dengan damai.
Kabar
tentang teror ini menyebar dengan cepat, mencapai telinga dua pendekar handal,
Mada dan I Waco. Mada adalah seorang pendekar berbakat dari Pulau Bawean yang
dikenal karena keterampilannya dalam seni bela diri. Ia memutuskan untuk pergi
ke Marasende, mengenakan baju perangnya dan membawa pedang terhunusnya, siap
untuk melindungi pulau itu dari bahaya yang mengancam.
Di
saat yang sama, I Waco, seorang Pendekar Tanah Mandar yang terkenal akan
keahliannya dalam ilmu bela diri Kuntau, juga mendengar kabar tentang teror di
Marasende. Tanpa ragu, I Waco memutuskan untuk bergabung dengan Mada dalam
perjalanan menuju pulau itu.
Matahari
terbit dengan semburat merah di ufuk timur, menandai awal dari hari yang akan
menjadi salah satu yang paling penting dalam sejarah Pulau Marasende. Penduduk
pulau merasa tegang, bersembunyi di rumah-rumah mereka, menantikan berita
tentang pertempuran yang akan datang. Di tengah hutan yang rapat, Mada dan I
Waco mempersiapkan diri untuk menghadapi Lipan Besar.
Dengan
pedang mereka tergantung di pinggang, dua pendekar itu berjalan dengan langkah
mantap menuju kawasan hutan yang diketahui sering dihuni oleh Lipan Besar.
Suasana hening seakan berbicara tentang ketegangan yang menghantui udara. Di
bawah dedaunan yang rimbun, mereka merasakan kehadiran makhluk mengerikan yang
telah menyebabkan ketakutan begitu lama.
Tiba-tiba,
Lipan Besar muncul dari balik pohon besar. Sayapnya yang gelap menutupi langit,
dan matanya yang tajam menatap Mada dan I Waco dengan penuh ancaman. Kehadiran
Lipan Besar memenuhi hutan dengan keganasan dan aura mengerikan.
Pertarungan
pun dimulai. Mada dan I Waco melawan Lipan Besar dengan gerakan yang cepat dan
tepat. Mereka bergerak seperti bayangan, menghindari serangan-serangan maut
yang dilancarkan oleh makhluk itu. Pedang-pedang mereka bersinar dalam sinar
matahari, menciptakan panorama yang luar biasa.
Lipan
Besar juga tidak kalah ganas. Dengan serangan berkecepatan kilat dan
gerakan-gerakan yang licin, ia mencoba merobek pertahanan para pendekar.
Dentingan pedang dan hentakan kaki menggema di antara pepohonan saat pertarungan
sengit berlangsung.
Berjam-jam
berlalu, namun pertarungan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Kedua
pendekar ini semakin terdesak oleh keganasan Lipan Besar. Luka-luka kecil mulai
bermunculan di tubuh mereka, namun semangat mereka tidak pernah goyah. Mereka
tahu bahwa ini adalah pertarungan yang harus dimenangkan, bukan hanya untuk diri
mereka sendiri, tetapi juga untuk keamanan dan kedamaian Pulau Marasende.
Saat
pertarungan semakin memanas, harapan untuk mengalahkan Lipan Raksasa semakin
tipis. Mada dan I Waco terdesak oleh keganasan makhluk tersebut. Namun, pada
saat yang kritis, I Waco memiliki ide yang sangat gila. Dia memutuskan untuk
memancing Lipan Raksasa agar melilitnya.
I
Waco dengan berani melompat ke dekat makhluk raksasa tersebut dan menantangnya.
Lipan Raksasa yang ganas merasa terprovokasi dan mulai melilit I Waco dengan
gigi-giginya yang tajam. Tubuh I Waco terlilit oleh tubuh besar Lipan Raksasa,
dalam gerakan berani yang penuh pengorbanan, mendekap tubuh Lipan Besar dengan
pedangnya, memeluknya seperti seekor ular yang merangkul mangsanya.dan saat
itulah I Waco berteriak
"Ayo,
lakukan sekarang," pintanya pada Mada.
“tapi..tapi…tapi…” seru
Mada tanpa bisa melanjukan kalimatnya
"Ayo
lakukan sekarang sekarang Mada!" seru I Waco ke pada Mada,
Wajahnya penuh dengan keputusan yang
tegas, dalam hatinya terbesik ini adalah satu-satunya kesempatan untuk
mengakhiri Lipan Besar selamanya."
“ Mada…Tikam segera!!” Segera
Mada tidak ada cara lain , jika kau tak melakukannya Lipan ini yang akan
membunuh kita . “Segera lakukan saudaraku …! Jangan fikirkan lagi tentang aku,
aku sudah bertekad sejak awal apa pun yang terjadi aku akan berkorban dengan
nyawa dalam pertarungan ini demi kemaslahatan penduduk di pulau dan warga
sekitarnya.
Mada memahami
rencana mendadak ini. Ia mengangguk, menghormati tekad besar yang ditunjukkan
oleh Pendekar dari Tanah Mandar ini.
Dengan
suasana hati yang tak karuan dan dengan deraian air mata Mada memegang pedang
terhunusnya dengan tangan gemetar, tetapi tekadnya bulat. Ia tahu bahwa inilah
saatnya untuk mengakhiri teror yang telah lama menghantui pulau ini. Dengan
satu gerakan yang presisi dan penuh keberanian, Mada menikam Lipan Raksasa
tersebut. Bersamaan dengan itu, I Waco juga ikut terseret dalam hunusan pedang
tajam ini. Tubuh Lipan Besar dan I Waco jatuh ke tanah bersamaan, mengakhiri
pertarungan yang mengerikan dan meletupkan ledakan energi yang menggelegak.
Darah
bercucuran di sekitar nya menandai akhir dari pertarungan yang sangat epik dan
menguras tenaga, ketika debu mengendap dan hutan kembali menjadi tenang, Mada berdiri
di tengah keheningan yang terjadi setelah badai. Penuh hormat, ia membungkuk
rendah sebagai penghormatan terakhir kepada Pendekar dari Tanah Mandar yang
telah mengorbankan dirinya demi keselamatan pulau ini. Tubuh Lipan Raksasa yang
sudah mati di boyong warga ke pinggir pantai pulau tersebut. Penduduk
setempat membangun nisan dari kayu yang dikenal sebagai "kayu angin"
dalam bahasa lokal sebagai tanda kenang-kenangan untuk peristiwa tersebut.
Nisan itu berdiri di pinggir pantai, mengingatkan semua orang tentang kisah
epik pertarungan antara dua pendekar dan Lipan Raksasa yang ganas.
Dalam
cahaya senja yang merayap di antara pepohonan, Mada merenung tentang
pengorbanan dan keberanian yang telah terjadi. Pertempuran telah berakhir, dan
Lipan Besar akhirnya mati bersama sang pendekar yang telah menjadi pahlawan tak
dikenal dalam legenda baru Pulau Marasende.
Namun,
kisah ini tidak berakhir begitu saja. Meskipun Lipan Raksasa jantan telah
tewas, Lipan betina yang selamat terbang ke Kalimantan Selatan, mengakhiri
ancamannya terhadap pulau Marasende. Tapi kisah pertarungan epik ini akan
selalu dikenang sebagai salah satu momen paling menakjubkan dalam sejarah pulau
tersebut. Ini adalah kisah tentang keberanian, keterampilan, dan tekad dua
pendekar yang telah mengalahkan Lipan Besar dan mengembalikan kedamaian ke
pulau Marasende.